SKETSA BUDAYA INDONESIA
( Sebuah Fenomena dan Upaya untuk Kembali )
Oleh : Sukahar Ahmad Syafi’i
( Juara  I dalam Lomba Essay tingkat Mahasiswa dalam Rangka Milad UAD 53 )

Anthony Giddens (1990) menyebut globalisasi sebagai intensifikasi hubungan sosial di segenap penjuru dunia yang menghubungkan wilayah-wilayah yang saling berjauhan dengan cara tertentu sehingga apa yang terjadi pada tingkat lokal dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang berlangsung di tempat lain (yang mungkin bermil-mil jaraknya), serta sebaliknya. Tentu saja kita dapat menilai pemaknaan Giddens di atas sebagai penyederhanaan terhadap fenomena globalisasi yang sesungguhnya luar biasa kompleks, penuh ketidakmestian, dan keragaman. Meski demikian, pemahaman Giddens dapat membantu kita untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi, dan hal itu mempermudah upaya untuk mencermati persoalan. (Anthony Giddens, 25)
Sekitar empat dasawarsa terakhir, istilah globalisasi menjadi kecenderungan yang banyak dibicarakan oleh masyarakat dunia. Terutama bagi masyarakat dunia ketiga atau masyarakat negara miskin. Kata globalisasi banyak dibicarakan karena  dianggap  sebagai arus yang akan mengeksploitasi  seluruh sumber lingkungan dan budaya dibanding dengan sebaliknya yakni membangunnya (Michael Tirta, 48). Hal ini dapat dipahami mengingat posisi globalisasi dianggap sebagai arus komunikasi dan informasi yang mengalir begitu derasnya dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga dapat dikatakan tidak ada garis batas atau  pagar  pemisah antara bangsa/negara yang satu  dengan negara yang lain.
Dunia  yang berisi bangsa-bangsa dan negara-negara menjadi satu yang bulat, global, yang berarti seantero dunia. Oleh karena itu, hal-hal yang sifatnya informatif sangat mudah kita dapatkan, dan bagi kita sendiri juga sangat mudah untuk berkomunikasi dengan bangsa lain.
Kenyataannya, dengan tiada batas itu, arus globalisasi dari negara lain sangat mudah memasuki kawasan negara kita, daripada sebaliknya. Di dalam sistem globalisasi, dunia kita kelihatan menjadi satu, tetapi kenyataannya  setiap bangsa atau negara tidak bisa saling memberi atau menerima informasi. Tampaknya, negara maju lebih dominan dalam memberikan informasi ke negara berkembang daripada sebaliknya. 
Dalam sejarah perkembangannya, bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya yang sampai sekarang masih dikagumi. Kreasi dan karya budaya tersebut merupakan  hasil akal, budi, dan pikiran manusia sebagai makhluk paling sempurna yang tak ternilai harganya (Sutiyono, 39). Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa dengan masyarakatnya yang pluralistik mempunyai berbagai macam, bentuk, dan variasi dari kesenian budaya. Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh peradaban budayanya. Seiring perkembangan zaman dan globalisasi, semakin banyak kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Generasi muda bangsa kita semakin lupa akan budaya bangsanya sendiri, mereka seakan-akan tertelan arus globalisasi yang lebih mengandalkan teknologi dan melupakan akar budayanya. Kebudayaan asli seakan-akan hampir punah karena tidak dilestarikan dan semakin tertelan arus perubahan jaman.
Secara general holistika, perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralism. Nilai dan norma sosial merupakan salah satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa.
Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh (Supardi, 67). Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga.
Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khazanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dan nilai luhur dalam tubuh masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik bernuansa rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial (Kuntowijoyo, 55).

SAHABAT
Oleh : Sukahar Ahmad Syafi’i
{ Masuk dalam Karya Antologi Arti Sebuah Perpisahan book 2 in Cafe Book (CB) }

“ Kayaknya kita harus berubah bro” Suara Andi tiba-tiba memecah keheningan yang menyelimuti diriku
“ Apanya yang harus berubah ? “ tanyaku seolah merespon perkataan Andi
“ Mengakhiri prilaku buruk kita selama ini, dan ini udah gak bener bro”
“ Gue gak paham maksud lu ”
“ Detik ini juga harus kita akhirin, semua prilaku kehewanan kita, saat ini kita berada dijalur yang salah bro, ayolah kita merubah jalan hidup kita”
Percakapanku dan Andi itulah yang masih tersimpan dalam memoriku yang mungkin sudah tidak original ini. Semenjak kecelakaan satu minggu yang lalu, dokter memvonis bahwa aku terkena gegar otak ringan, sehingga ada beberapa hal yang mungkin sudah tidak bisa diingat lagi. Bahkan sempat juga aku lupa namaku sendiri, adik, kakak, ayah dan juga mama.
“ Ingat bro, kita udah kelas 3, bentar lagi UAN, apa kamu mau di DO sebelum UAN gara-gara perbuatan yang konyol ini” tanya Andi resah
“ haha… kayaknya hari ini lu sewot amat Ndi, rileks aja lah bro, kita cuma minum-minum sama goda-godain cewek, dinikmatin aja” jawabku enteng seraya menyodorkan sebatang rokok pada Andi
Putus…, aku sudah tak ingat lagi lanjutan percakapnku dengan Andi. Sekuat apapun aku mencoba untuk mengingat kembali, hasilnya Nihil, kosong… tak ada lagi lanjutan percakapan tersebut.
*             *             *
“ Viki, gimana keadaan kamu sekarang, Viki kenapa kamu diam saja, kami di sini datang untuk melihatmu, ayo dong bicara, kamu bisa mendengar kami kan..?”
Kucoba mencari darimanakah suara itu berasal. Ku tolehkan pandanganku ke kanan, kiri, belakang, depan, atas, bawah. Nihil.. semua nampak kosong dan gelap
“Apa yang terjadi dengan diriku, dimana aku, kenapa jadi seperti ini” semua pertanyaan tersebut menggelayuti pikiranku.
“ Vik, Viki lu bisa denger gua” Iya..iya gue bisa denger, Lu Andi kan, eh gimana kabar lu Ndi ?” tenang bro, gue udah tenang di sini, lu yang tenang juga ya, gak usah mikirin gue”
Hilang…, lagi-lagi aku merasa ada yang hilang, padahal aku sangat yakin sedang bercakap-cakap dengan temanku Andi.
*             *             *
“ Kamu baik-baik saja kan Vik, tadi temenmu pada ke sini loh” suara mama tiba-tiba memecah kebingunganku
“ Andi…, Andi ya Ma..?”
“ Siapa Ma, Andi kan Ma..?”
“ hik..hik, bu..bukan Vik, bukan…” jawab mama disertai isak tangisnya
“ Lalu dimana Andi ma, dimana..?” tanyaku agak parau
“ Sudah Viki, sudah…?”
“ maksudnya sudah apa Ma, ayo katakan, ada apa dengan Andi ma…?”
“ Dia sudah tenang di alam sana Vik”
“ Jangan katakan kalau dia sudah….”
“ Iya Vik, yang tabah ya” jawab mama seraya memelukku.
Seketika itu, isak tangisku pecah, tumpah ruah dipelukan mama, tubuhku seakan-akan tak mampu digerakkan, mulutku tak dapat lagi berkata-kata. Perpisahan ini lebih menyakitkan ketimbang derita gegar otak dan kebutaan yang aku alami saat ini. “ Maaf brother, aku ini terlalu egois, aku tidak pernah peduli terhadap apa yang kau inginkan, tapi aku juga tidak pernah tau kalau ini akan terjadi, tetaplah jadi sahabatku untuk selamanya, sampai ketemu lagi sobat, semoga kau tenang di alam sana” lirihku dalam hati.

ENGKAULAH CANDLELIGHT-KU
Oleh : Sukahar Ahmad Syafi’i

Tahukah engkau, siapa sebenarnya candlelight yang selalu menerangi langkahmu, menjadi pelita dihatimu, dan penghapus lukamu
Tahukah engkau, siapa sebenarnya candlelight yang siap sedia menemanimu, menghawatirkanmu, dan menyayangimu.
Tahukah engkau, siapa sebenarnya candlelight yang merelakan engkau berada bersamanya selama 9 bulan, yang berjibaku, berjuang, bahkan rela mengorbankan nyawa demi melihat engkau terlahir  di dunia
Ummi…
Ya, dialah Ummi, wanita penyabar, tegar, dan kuat
Seorang wanita yang kau sebut sebagai Candlelight kehidupanmu.
Ummi, tak banyak ungkapan kata yang dapat aku ungkapkan dengan jelas karena sesak di dada saat mengingat semua perjuanganmu, sungguh hebat semua perjuanganmu untuk anakmu yang tak pernah mengerti ini.
Kasih sayangmu seluas samudra, setinggi gunung, sehangat matahari, wajahmu seteduh bulan, dan hatimu sebening air samudra.
Aku memang tidak pandai berkata-kata, tidak pandai pula dalam pelajaran, tapi aku mau berusaha dengan apa yang telah kau ajarkan kepadaku,  dengan apa yang telah Allah berikan kepadaku, dan aku mau memberikan semua yang terbaik untukmu Ummi.
Sungguh Ummi, aku memang anak lelaki yang tak berguna. Tapi Ummi … aku berjanji untuk menepati janjiku mewujudkan apa yang Ummi inginkan, aku mau disisa umurmu aku bisa membahagiakanmu, menghapus lukamu dan membuat kau bangga akan hasil karya anak lelakimu ini.
Aku mau Ummi, disisa umurmu nanti, aku bisa merawatmu, membahagiakanmu, membuatmu tersenyum dan menjagamu selalu, seperti apa yang telah ummi lakukan selama ini.
Bagaimana Ummi, engkau tak percaya? Baiklah Ummi, izinkanlah aku bercerita
* * *
Hari ini, sedikit berbeda dengan hari-hari yang biasa aku lalui, entah karena suasana hatiku yang sedang baik atau karena ada kabar gembira yang baru saja aku dengar. Cukup lama aku terdiam memikirkan apa yang sedang terjadi.
Pada hari ini, rasanya membuatku bingung bercampur senang, Hingga aku merasa sulit sekali untuk mengungkapkannya.
Sudah hampir lima tahun aku menanti hadirnya seseorang yang bisa mengisi kekosongan hidup ini, membuat aku tertawa, tersenyum, serta membuat perjuangan hidup ini lebih berarti.
Pasangan suami-istri mana yang tidak sedih, jika selama masa pernikahan yang cukup tua ini belum dikaruniai momongan yang kelak menjadi penerus dan pengasuhnya dikala mereka sudah tua.
Aku tak bisa membayangkan, bagaimana senangnya suamiku ketika mendengar berita bahwa saat ini aku positif hamil dan mengandung darah dagingnya, pasti dia akan sangat senang setelah penantian panjang ini.
Vonis dokter lima tahun lalu bahwa aku mandul masih terngiang-ngiang dipikiranku, bagaikan goresan luka yang tak akan pernah hilang. Tapi kabar bahwa aku positif hamil hari ini memberikan secercah sinar harapan yang dapat menghapus kesedihan dan kegelisahan yang tertanam dalam hati  selama lima tahun ini. Antara yakin atau tidak, percaya atau tidak, senang dan sedih, semua bercampur menjadi satu dalam gemuruh hati ini, serasa mimpi tapi nyata, sungguh terheran aku dibuat.


JANGAN SALAH PILIH TEMAN
Oleh : Sukahar Ahmad Syafi’i
(Tulisan ini telah diterbitkan oleh Majalah Suara Muhammadiyah edisi 18 TH. Ke-97 16-30 sept 2012)
Manusia adalah makhlus sosial, yaitu makhluk yang tidak dapat hidup sendiri, tapi dia hidup secara bersama atau bermasyarakat. Mengapa demikian, karena manusia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan dan urusanya sendiri, sehebat dan setangguh apapun manusia, pasti memerlukan uluran bantuan orang lain, ketika manusia sakit, dia membutuhkan dokter untuk membantu mengobatinya, ketika manusia ingin belajar, dia membutuhkan seorang pembimbing (guru) untuk mengajarinya, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, interaksi (bergaul) sesama manusia sangat diperlukan agar terjalin hubungan yang harmonis diantara mereka, sekalipun demikian aspek bergaul yaitu memilih teman benar-benar harus diperhatikan, karena sekali salah dalam menentukan pillhan, maka akibatnya pun akan fatal.
Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang berprilaku buruk, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan teman yang memiliki perangai baik.
Mengenai dampak pergaulan Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
 حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Telah menceritakan kepadaku Mūsa bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid, telah menceritakan kepada kami Abû Burdah bin Abdullah dia berkata : Aku mendengar Abû Burdah bin Abi Mûsa dari ayahnya ra berkata, Rasulullah saw bersabda :Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari )
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya (4/2026), terdapat pula dalam Shahih Ibnu Hibban (2/320) dan terdapat dalam kitab Kanzul amal fî sunan al-Aqwal wa al-Af’al (9/44). Menurut Su’aib al-Arnauth sanad hadis ini Shahih berdasarkan kriteria Bukhari dan Muslim, Nashiruddin al-Albani juga mengatakan bahwa hadis ini tergolong hadis Shahih sehingga bisa dijadikan hujjah (Silsilah al-Ahadis ash-Shohihah 7/26)

TETAP SAHABAT
Oleh :Sukahar Ahmad Syafi'i

Tet…tet..tet.. Suara bel berbunyi, pertanda semua siswa harus masuk kelas. Pak Amin selaku bagian BP disekolahku sudah berdiri di depan gerbang sekolah untuk melaksanakan rutinitasnya, menghukum anak-anak yang terlambat.
"Rud, lewat sini " kataku pada Rudi
"Jangan Fi', itu jalan buntu" sahut Agus
" masa' sih " tanggapku tak percaya
" Iya, kemarin jalan itu ditutupi pagar oleh Pak Amin" jawab Agus meyakinkanku
" Pasti ini gara-gara si Bogeng, pake' tertangkap basah segala lagi terlambatnya" Rudi nyeletuk
" Bener Rud, aku setuju terlambat kok gak propesional" Sahut Agus pula menguatkan pendapat Rudi
" udah-udah, tahu gak kalian jam pertama pelajaran siapa..?" kataku agak jengkel
" Pak Amiiin" jawab merek serentak
Beberapa menit kami bertiga terdiam membisu, saling bertatap pandang penuh tanda tanya, memikirkan trik dan cara yang jitu agar lolos dari terkaman hukuman Pak Amin.
" Sudahlah Bro, kita masuk lewat depan aja, percuma sudah gak ada jalan lagi, apalagi kita udah ketinggalan pelajaran selama 15 menit, bisa tambah parah nih kalau diterus-terusin" kata Agus memecah lamunanku dan Rudi
" Ehmm…. Gimana yah" jawabku sambil garuk-garuk kepala
"pake' acara gimana lagi, ya udah ayo jalan" ajak Agus sambil menarik tanganku
" Weee… tunggu Coy" teriak Rudi, karena merasa ditinggal
*          *          *

" Ini peringatan terakhir untuk kalian bertiga, kalau kalian tidak mau berubah, kami dari pihak sekolah akan memanggil orang tua kalian dan dengan sangat terpaksa memulangkan kalian" Suara Pak Amin terdengar tegas  dan lantang
Bagai disambar petir rasanya telinga dan hati kami bertiga mendengar perkataan Pak Amin barusan
" heh… kalian Paham " gertak Pak Amin
" pa..pa..haam.. pak" jawab kami bertiga terbata-bata
" ingat, Kalian sudah kelas tiga, Ujian Akhir sudah diambang Pintu, tidak ada yang tahu nasib kalian selain diri kalian sendiri, Ingat itu baek-baek"
Ya sudah, cukup untuk hari ini, Kalian boleh kembali ke kelas" perintah Pak Amin sambil berjalan menuju Ruang tugasnya
Kami bertiga berjalan tertunduk lesu menelusuri lorong sekolah menuju kelas, tak satupun diantara kami yang mengawali untuk berbicara. Sudah hampit tiga tahun kami belajar di sokalah, dan sudah hampit tiap hari ocehan, omelan dan hukuman dari Pak Amin diberikan kepada kami. Seharusnya kami terbiasa menerima hal itu tapi hari ini memang berbeda dari hari yang lain, seakan-akan hari ini adalah hari dimana kami tersadar akan kesalahan kami, kenakalan dan keangkuhan kami selama ini. Hanya satu yang ada dalam pikiran kami " Bingun..bingung..dan bingung.."

*          *          *

Teet…teet…teet.. Bel berbunyi lagi, tapi bel yang ini menandakan bahwa semua kegiatan belajar mengajar untuk hari ini selesai dan para siswa berkemas-kemas untuk pulang.
" Kamu kenapa Fi', kok gak pulang, ada masalah apa to?" Tanya Nesya memecahkan lamunanku
"eng…ga…gak  ada kok Nes" jawabku gugup

INILAH CINTA
Oleh : Sukahar Ahmad Syafi'i

Namanya Farah Amelia, gadis cantik asal kota Semen inilah yang membuatku sering melamun dan tak bisa tidur nyenyak, selalu terbayang wajahnya yang cantik dan senyumnya yang mempesona.
Memang tidak lama aku kenal dengannya, mungkin baru sekitar empat bulanan sejak dia masuk sekolah ini sebagai siswi baru, tapi mengapa setiap aku memandang wajahnya dan melihat senyumnya, hatiku merasa berdebar-debar bahkan akhir-akhir ini aku sering gugup jika berhadapan dengannya.
Sebenarnya ini tidak realistis,masa' baru kenal udah jatuh cinta, apa ini yang namanya cinta, ah aku juga tak tahu sebenarnya apa cinta itu. Oleh karena itu kali ini aku akan buktikan apa aku memang telah jatuh cinta kepadanya.
" Fik… fik.. Farah datang tuh" bisik Edi kepadaku
" Iya.. iya udah tahu aku" jawabku ketus
" yang rileks Sob, jangan tegang gitu" Edi komentar lagi sambil menepuk pundakku
" Rileks gundulmu, kayaknya aku nggak berani Ed"
"Walah, Preman kok nembak cewek nggak berani " ejek Edi padaku
" Bener Ed, untuk yang satu ini, aku bener-bener nggak berani, aku juga nggak tahu kenapa" kataku penuh keyakinan
" Yo wes  kalau begitu, bakal nyesel kowe Fik" Edi kembali lagi mengejekku seraya pergi meninggalkanku
" Woe… mau kemana kamu Ed" teriakku pada Edi
" Ke Kantin, laper neh"  jawab Edi singkat lalu menghilang di kerumunan para siswa yang sedang mengantri makanan di Kantin
            Lagi-lagi aku gagal untuk mengungkapkan perasaan cintaku padanya, entah kenapa aku harus takut, padahal di Sekolah ini aku terkenal Si Penggoda Wanita dan Si Tukang Jahil, masa' nembak cewek gitu aja takut. Kenapa ya..? bisikku dalam hati. Masih bingung memikirkan hal itu tiba-tiba Andi datang dengan tawa khasnya mengagetkanku
" Hahaha… Yah payah kon Fik, ngono wae takut, huh cemen" ejek Andi sambil meringis
" Ah, sialan kowe, teko-teko ngece" kataku sambil menjitak kepalanya
" Habis dari kemarin Cuma punya rencana mau nembak doank, mana bukti dan realisasinya” lagi-lagi Andi komentar disertai tawanya yang khas
" nggak tahu ah Ndi, pusing aku" jawabku sekenanya sambil berjalan meninggalkannya
*          *          *
" Anak-anakku semuanya, terutama kalian yang menduduki bangku kelas tiga, Ingat pesan Bapak ini. Jangan banyak bermain, bercanda dan mengerjakan segala sesuatu yang tidak bermanfaat, Ujian Akhir sudah di depan mata, waktu kalian tidak banyak hanya tiga minggu terhitung mulai sekarang" Pidato Pak Anwar, Kepala sekolahku yang terlihat lebih tegas dari biasanya
" jangan sampai ada diantara siswa dari Sekolah ini tidak lulus Ujian Akhir Nasional, jika hal yang demikian itu terjadi, sungguh-sungguh memalukan"